Sabtu, 05 Juli 2014

“WONG SUGIH MATI KELUWEN” – IRONI KEHIDUPAN DI DEPAN HIDUNG KITA

 



Ironi zaman, wong Jawa menyebutnya wolak-waliking jaman ada di depan mata. Sesuatu yang tampak bukan sesuatu yang senyatanya. Gampange rembug (bahasa mudahnya), yang tampak putih belum tentu benar-benar putih. Yang kelihatan hitam belum tentu benar-benar hitam. Orang yang menampakkan diri sebagai sosok bersih, berwibawa, tegas, antikorupsi, antikekerasan, antipenganiayaan, antipenghilanganpaksanyawaoranglain, dan sederet penampakan bersih dan suci sejenis, pada tataran kenyataan, belum tentu nyata. Nyatanya belum tentu begitu. Saknyatane (kenyataannya) bisa berbeda, bahkan bertolak belakang dengan yang diperlihatkan di depan publik. Mlahanya, gambaran gampangnya, misalnya, orang yang tampil –secara fisik/kasat mata—suci, ternyata…, sangat dalamnya kotor! Bersih, suci ternyata hanya kulit luarnya. Batin dan tingkah lakunya ternyata gandane bacin ambangeri (sangat-sangat-sangat busuk sekali)…!!!

Berpijak dari kenyataan itulah terbitlah WONG SUGIH MATI KELUWEN Falsafah Kearifan Jawa di Tengah Zaman Edan karya Gesta Bayuadhy (Suwito Sarjono). Buku tersebut diterbitkan DivaPress Yogyakarta.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering disuguhi pentas yang tidak pantas. Ada orang yang mengaku dan berperilaku meniru-niru Bima, padahal jiwanya bersemayam sifat Rahwana. Ada yang bersikap seolah-olah dirinya sosok Kresna, padahal dirinya mewarisi dan meneladani tingkah laku Sengkuni!

Ironi adalah yang terjadi berkebalikan dengan yang semestinya. Ironi adalah yang terjadi mestinya jangan terjadi. Pejabat menggasak uang rakyat melalui perilaku korupsi adalah ironi. Petugas keamanan membiarkan maling menggarong uang negara adalah ironi. Lurah (kepala desa) –maaf—nggendak (menyelingkuhi) perempuan yang bukan istrinya adalah ironi. Dan…, banyak ironi-ironi terjadi di depan mata, sulit untuk dilawan atau ditanggulangi karena sebagian ada yang menganggapnya biasa.

Sekarang, ada banyak ironi di depan mata. Terserah Anda mau menyikapinya. Yang jelas, pada zaman edan, akan makin banyak ironi kehidupan yang terjadi. Dalam buku WONG SUGIH MATI KELUWEN - Falsafah Kearifan Jawa di Tengah Zaman Edan tersajikan berbagai kiat untuk menghadapi ironi-ironi yang terjadi di zaman edan.

Salam budaya.

Salam damai….

Tegalan, Jelang Penentuan Nasib Bangsa Indonesia – awal Juli 2014

Gesta Bayuadhy = SuwitoSarjono

*****

LANGGANAN ARTIKEL

Tulis email Anda untuk mendapatkan update artikel di blog ini, lalu "KLIK DI SINI"!:

Delivered by FeedBurner

Translate