Sabtu, 03 September 2011

MARI MEMBACA EBOOK RELIGI KISAH-KISAH TELADAN: RASULLULLAH SAW, PARA SAHABAT DAN ORANG-ORANG SHALEH

 
Langsung ya! Untuk menambah keimanan kita, mari kita membaca EBOOK RELIGI KISAH-KISAH TELADAN: RASULLULLAH SAW, PARA SAHABAT DAN ORANG-ORANG SHALEH. 
Ebook tersebut bisa didownload di sini
atau
___________________________________________________________________
Sumber: http://ebook-kaka.blogspot.com/2010/06/ebook-religi-kisah-kisah-teladan.html

Foto: Kisah-kisah Teladan Rasulullah, para Sahabat, dan Orang-orang Saleh
Sumber foto: http://3.bp.blogspot.com/_k8ziH4NcPuE/TCVkXa32xzI/AAAAAAAAAVk/4W55CdA04cA/s1600/Kisah+Teladan+Rasullullah+dan+Orang+Shaleh.jpg

Jumat, 02 September 2011

MAU CARI ANEKA EBOOK? DI SINI TEMPATNYA...!

 

Langsung saja ke tujuan, tanpa basa-basi. Kalau Anda ingin mencari aneka macam ebook gratis tempatnya di sini.
Sekali lagi, silakan klik di sini
atau di sini
Selamat menikmati ebook gratis.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Foto: ebook
Sumber foto: https://www.google.com.sg/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=imgres&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwi655y3vqvSAhWHq48KHSEnBAgQjBwIBA&url=http%3A%2F%2Fw20.indonetwork.co.id%2Fpdimage%2F52%2F2878252_ebook-berkualitas.jpg&psig=AFQjCNE6rBZeuHiCU2t2gOD-GDIlSAlk0Q&ust=1488120345648671

Kamis, 01 September 2011

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H

 

Minggu, 19 Juni 2011

"SANDERA SANDRA" DIMUAT DI SOLOPOS 19 JUNI 2011

 

Cerita Pendek
SANDERA SANDRA
Oleh: Suwito Sarjono

“Kenapa Sandra? Kenapa bukan Wulan saja?” tanya Tong Phez kepada Jie Red. Dua penculik profesional itu adu pendapat.
“Bos menginginkan begitu,” jawab Jie Red.
“Ya…, kalau Bos menginginkan begitu, apa boleh buat! Kita ini yang penting kerja, dapat duit, beres! Soal yang diculik itu anaknya, istrinya, istri simpanannya, tidak masalah.”
“Eh, aku kok malah tergelitik oleh pertanyaanmu itu.”
“Apanya yang menggelitik?”
“Kau menanyakan tentang orang yang harus kita culik.”
“Ya…, aku heran. Kenapa kok Sandra yang diculik kalau untuk memeras Tuan Soe Gih The Nan? Bukankah Sandra ini anak yang bandel? Bukankah Sandra ini suka membangkang pada ayahnya? Tuan Soe Gih sering dibuat naik darah kalau ingat tingkah laku anaknya yang tomboy, urakan, dan suka memberontak!”
“Benar, mestinya kalau menculik ya si Wulandari yang biasa dipanggil Wulan. Bukan Sandra Buanawati yang nama panggilannya Sandra. Wulan adalah istri muda Tuan Soe Gih. Umur Wulan hanya setahun lebih tua dari Sandra. Tuan Soe Gih menikahi Wulan setelah istrinya yang ketiga mati. Aku heran, kenapa istri-istri Tuan Soe Gih mati semua?”
“Dengar-dengar istri-istri Tuan Soe Gih sebelumnya mati karena dibunuh.”
“Dibunuh?”
“Iya.”
“Siapa yang membunuh?”
“Masih misterius. Isunya…, yang membunuh istri-istri Tuan Soe Gih sebelumnya adalah Tuan Soe Gih sendiri….”
***

“Mau kemana, Sandra?” tanya Wulan, ibu tiri Sandra.
“Pergi,” jawab Sandra dengan nada ketus.
“Iya, mau pergi kemana?”
“Ke rumah teman.”
“Teman yang mana?”
“Kau nggak perlu mencampuri urusanku. Aku sudah dewasa. Bukan gadis bau kencur yang mesti ditanya ini-itu ketika mau pergi.”
“Sekarang kan sudah malam. Nanti kalau ayahmu tanya, bagaimana menjawabnya?”
“Ya, sudah, jawab saja apa adanya, ‘Sandra mau ke rumah teman.’ Titik! Ah…, umurmu ini setahun lebih tua dari aku saja, bawelnya seperti nenek-nenek!”
Sandra langsung meninggalkan Wulan yang masih duduk di ruang tamu sambil nonton tayangan televisi. Televisi adalah teman setia Wulan, istri Tuan Soe Gih. Sebagai istri seorang konglomerat besar, Wulan sering berada di rumah sendirian. Tuan Soe Gih sering keluar kota. Bahkan tidak jarang keluar negeri. Untuk mengusir kesepiannya, dia selalu menghidupkan televisi sebagai teman yang paling setia. Sandra, anak tirinya yang masih kuliah, tak lebih dan tak kurang adalah musuh bebuyutan  bagi Wulan.
Entah apa sebabnya, Wulan sendiri tidak tahu. Sejak dirinya menikah dengan Tuan Soe Gih, Wulan langsung memusuhinya. Sebenarnya tidak kurang-kurangnya upaya Tuan Soe Gih untuk mendamaikan anak dan istrinya. Namun segala upaya yang pernah dilakukan Tuan Soe Gih gatot alias gagal total!
Pada tahun pertama pernikahannya dengan Wulan, ingin  rasanya Tuan Soe Gih menceraikan istri dalam pernikahannya yang ketiga itu. Namun Tuan Soe Gih merasa malu dengan masyarakat. Apa kata mereka kalau baru setahun menikah dirinya sudah bercerai. Apa penyebabnya? Mengapa bisa begitu? Dan…, beribu-ribu pertanyaan akan dilontarkan para wartawan kalau tiba-tiba dirinya bercerai dengan Wulan. Apalagi kalau penyebab perceraian itu hanya karena Sandra tidak suka pada ibu tirinya!
Sekarang, dalam perjalanan pulang dari kantornya, Tuan Soe Gih masih memikirkan tentang konflik tak ada ujung antara Sandra dengan Wulan. Ketika turun dari mobil, rasanya Tuan Soe Gih malas memasuki rumahnya sendiri. Di dalam rumah megah dan mewah itu ada dua perempuan yang tidak akur. Kedua perempuan itu sama-sama dicintai Tuan Soe Gih. Satu dicintai sebagai istri, satunya dicintai sebagai anak tunggal.
“Kamu besok jemput aku jam enam ya!” kata Tuan Soe Gih kepada sopir pribadinya. Jupri, nama sopir pribadi Tuan Soe Gih.
“Ya, Tuan,” kata si sopir dengan penuh ketaatan.
Lalu mobil pun melaju meninggalkan rumah Tuan Soe Gih. Rumah yang kalau dilihat dari kejauhan seperti sebuah istana yang penuh sinar gemerlap.
Wulan menyambut suaminya dengan penuh rasa cinta. Walaupun terpaut berpuluh-puluh tahun, tetapi Wulan sangat cinta pada Tuan Soe Gih. Walaupun sampai sekarang belum punya keturunan, Wulan tetap cinta sama Tuan Soe Gih.
Baru saja Tuan Soe Gih ganti pakaian, telepon di ruang tamu berdering. Wulan yang mengangkat telepon itu. Wajahnya terlihat pucat. Dia segera menyerahkan gagang telepon itu kepada Tuan Soe Gih.
“Halo…, dari siapa ini?” tanya Tuan Soe Gih.
“Tuan Soe Gih tidak perlu mengetahui siapa saya,” kata Tong Phez dari seberang sana. “Sandra telah berada di tangan saya. Besok tengah malam serahkan uang seratus milyar pada saya di halte tua batas kota. Tuan Soe Gih harus datang sendirian. Kalau Tuan Soe Gih datang bersama orang lain, Sandra akan saya bunuh!”
“B-baiklah…, saya akan ikuti kata-kata Anda. Yang penting jangan sakiti Sandra! Dia anak saya satu-satunya,” kata Tuan Soe Gih dengan suara gemetar.
***

Halte tua, batas kota, lewat tengah malam. Sebuah mobil hitam terparkir. Ada tiga penumpang dalam mobil itu. Sandra, Tong Phez, dan Jie Red. Sandra sebagai sandera tidak diikat ataupun diborgol karena sejak ditangkap sudah menunjukkan sikap mau bedamai dengan dua penculiknya. Walaupun Sandra menunjukkan sikap baik, Jie Red tetap menodongkan pistolnya sejak berangkat dari persembunyian tadi.
Tak lama kemudian Tuan Soe Gih datang. Dia naik mobil mewah warna merah. Dia memarkir mobilnya agak jauh dari mobil hitam. Tuan Soe Gih langsung turun dari mobil dan berjalan menuju halte tua. Dua tas besar dan berat ada di kedua tangannya.
Tuan Soe Gih meletakkan dua tas besar di bangku halte. Dia menunggu para penculik menghampirinya. Perasaannya tidak enak. Secara naluriah, dia menduga akan terjadi sesuatu di luar perhitungannya.
Tong Phez dan Jie Red membawa Sandra keluar dari mobil hitam. Tong Phez berjalan paling depan. Disusul Sandra dan Jie Red. Jie Red berjalan paling belakang dengan tetap menodongkan pistol pada Sandra.
“Ini tebusan yang kalian minta,” kata Tuan Soe Gih kepada dua penculik itu. “Jumlahnya seperti yang kalian inginkan. Kalau tidak percaya, silakan kalian periksa!”
Tong Phez mengambil lampu senter dari saku jaketnya. Dia  membuka dan menerangi isi dua tas Tuan Soe Gih. Dia tak perlu menghitung, yang penting uangnya asli, bukan palsu.
“Oke…,” kata Tong Phez. “Tuan Soe Gih boleh ambil anak tuan! Aku ambil dua tas ini. Jie Red, nggak perlu menodongkan senjata pada Sandra lagi! Biarkan dia kembali kepada Tuan Soe Gih.”
Jie Red mengikuti kata-kata Tong Phez. Pada saat Jie Red tidak menodongkan pistolnya pada Sandra, Sandra bergerak cepat. Sandra mencabut pistol dari balik jaketnya. Pistol ditempelkan ke dada kiri Jie Red. Pelatuk ditarik. Sebuah peluru menembus dada, menghancurkan jantung Jie Red. Jie Red tewas seketika. Tubuhnya tergeletak di tepi jalan raya.
Tong Phez mau mencabut pistolnya yang terselip di pinggang. Namun dua tembakan Sandra menembus dadanya. Tong Phez pun sekarat. Tubuhnya terkapar di atas aspal.
Sandra mendekati Tong Phez dengan langkah tenang. Dia todongkan pistolnya ke wajah Tong Phez.
“Sebelum kamu mati, dengarkan kata-kataku ini dengan cermat!” kata Sandra. “Yang nyuruh kamu untuk menculikku adalah aku sendiri….”
Satu tembakan lagi menembus kepala Tong Phez. Membuat Tong Phez tak bergerak lagi untuk selama-lamanya.
Sandra menyimpan pistolnya di balik jaketnya. Dia mengambil pistol Jie Red yang tergeletak tak jauh dari tuannya yang telah menjadi mayat. Dengan pistol Jie Red itu, Sandra menembaki Tuan Soe Gih dengan tiga kali tembakan sekaligus!
Tuan Soe Gih terbelalak kaget. Dia tak menduga sama sekali Sandra melakukan kekejian itu. Tubuh Tuan Soe Gih limbung dan terjerembap di trotoar. Dia tergeletak di atas trotoar dengan napas satu-satu. Dadanya tertembus tiga peluru dari pistol Jie Red yang ditembakkan Sandra. Sebelum ajal menjemput, dia mendengar lama-lamat suara Sandra.
“Aku melakukan ini karena aku sudah tahu segalanya tentang kamu, Tuan Soe Gih!” kata Sandra. “Kamu yang telah membunuh kedua orang tuaku karena cintamu ditolak ibuku. Kamu merancang pembunuhan dengan cara seolah-olah itu kecelakaan lalu lintas. Jupri bercerita banyak tentang hal itu. Setelah kedua orang tuaku meninggal, kamu mengadopsiku sebagai bentuk ungkapan cintamu pada ibuku. Oh ya…, kamu sebenarnya ingin punya anak, tetapi dua istrimu terdahulu tidak bisa memberimu anak. Maka mereka kamu bunuh dengan rekayasa kecelakaan. Kamu ini egois, Tuan Soe Gih. Kamu yang mandul, bukan mereka. Buktinya, Wulan tidak bisa hamil. Padahal Wulan itu perempuan subur. Kalau Wulan nanti tidak bisa memberimu keturunan, paling-paling juga akan kamu bunuh.”
Sandra berdiri mengangkang dekat tubuh Tuan Soe Gih yang sekarat. Pistol teracung mengarah dada Tuan Soe Gih. Sandra berkata, “Jadi yang kulakukan ini bukan kekejaman, Tuan Soe Gih. Hutang nyawa dibayar nyawa….”
Satu tembakan lagi membuat tubuh Tuan Soe Gih terdiam dan beku.
Sandra segera meletakkan pistolnya di genggaman mayat Tuan Soe Gih. Gadis itu mendekati mayat Jie Red. Dia tembakkan satu peluru ke lengan kirinya dengan menggunakan pistol Jie Red. Lalu dia letakkan pistol Jie Red di genggaman mayat tuannya.
Buru-buru Sandra menelpon pihak berwajib. Dia menjatuhkan tubuhnya dekat mayat Tuan Soe Gih. Dia pejamkan mata. Dia pura-pura pingsan….
***

Cerpen di atas dalam versi asli, versi asli dari saya. Setelah diedit, lalu diterbitkan di SoloPos, 19 Juni 2011. 
Versi yang diterbitkan SoloPos bisa dilihat di:

atau DI SINI


Selasa, 03 Mei 2011

UANG VERSUS MORALITAS

 

Sebagian besar orang beranggapan bahwa uang adalah segala-galanya. Seolah-olah, tanpa uang, hidupnya mati, tak berasa, dan semacamnya. Intinya, tanpa uang, seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa. Misalnya saja, tanpa memiliki uang maka dirinya tidak bisa membeli  mobil, tidak bisa membangun rumah, tidak bisa sekolah, tidak bisa ini, tidak bisa itu, dan masih ada deretan panjang yang didahului kosa kata "tidak bisa".
Nyatanya begitu.

Berikut gambaran lain yang terkait dengan kehidupan. Ada orang (atau orang-orang) yang siang-malam-pagi-sore-senja-dini hari kerja keras memburu uang. Biar pun uang sudah berkelimpahan, tetap saja berburu dan berburu uang. Walaupun uangnya makin hari makin menggunung, tetap saja dia mencari dan terus mencari. Sampai-sampai jenis orang ini tidak sempat bertegur sapa dengan tetangga-sanak saudara-orang-orang sekitarnya. Sampai-sampai orang ini tidak tahu bahwa jumlah tetangganya berkurang karena kematian dan bertambah karena ada kelahiran. Tahunya adalah uang-uang-uang dan uang. Maka makin lama uangnya makin bertambah, hartanya makin melimpah, dan kemewahan duniawi pun teraih. Bahagia dia rasakan.
Nyatanya begitu.

Namun, satu pertanyaan ini perlu direnungi. Benarkah uang adalah segala-galanya? Tak perlu dijawab di sini, tetapi mari kita cermati uraian berikut. Ketika seseorang tiba-tiba sakit yang bersifat mendadak, misalnya strooke, atau jantung koroner. Atau ketika seseorang tiba-tiba mengalami kejadian tak terduga, mengalami kecelakaan tunggal di sebuah tempat yang sepi. Pertanyaannya, apakah uang (pasti) bisa menolong manusia dari kejadian-kejadian tak terduga seperti beberapa contoh itu? Jawabnya: belum tentu.
Nyatanya begitu.

Ada orang yang kaya raya, berlimpah harta, tiba-tiba kena serangan jantung. Segala upaya medis dilakukan, dan tetap saja tak tertolong. Kalau boleh memilih, selamat dari serangan jantung atau kehilangan seluruh uang dan hartanmya. Maka orang pasti memilih hal yang pertama. Nyawa tak bisa ditukar dengan uang atau pun harta.
Nyatanya begitu.

Ada contoh lain. Seseorang divonis terkena sakit dalam. Salah satu organnya mengalami pembengkakan. Secara medis, harus operasi. Namun orang ini tidak kuat menanggung biayanya karena memang miskin. Dia seorang pecinta alam. Pada saat itu, dia memberikan informasi penyakitnya kepada teman-teman sesama pecinta alam. Beberapa saat kemudian teman-teman berdatangan untuk memberikan berbagai macam jenis tumbuhan sebagai upaya mengobati penyakit lewat cara alami. Orang sekarang menyebutnya: pengobatan alternatif. Setelah melalui proses, orang itu sembuh dari penyakit pembengkakan salah satu organ dalamnya. Percaya atau tidak percaya dia sembuh tanpa pengobatan yang memakan banyak uang.
Nyatanya begitu.

Berdasar kenyataan yang kita amati setiap hari, saya ingin mengambil pemikiran bersifat madya (tengah). Artinya, uang memang kita butuhkan. Bahkan dalam saat-saat darurat, uang dangat kita butuhkan. Pada sisi lain, moralitas juga sangat kita butuhkan. Kenapa? Kalau  orang sudah kehilangan moralitasnya, maka dengan tenangnya dia bisa berbuat: mencari uang dengan jalan yang tidak halal, mengumpulkan uang dengan jalan korupsi, menumpuk harta dengan cara menipu, atau cara-cara sejenis. Percaya atau tidak percaya, uang hasil kejahatan, tidak akan bisa dimanfaatkan dengan semestinya. Bahkan harta yang dicapai dengan cara tidak halal, baik di akhirat atau pun di dunia, akan membuat yang bersangkutan celaka.
Nyatanya memang begitu.
Bumi Tegalan, 4 Mei 2011 [03:12 WIB]

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Foto: Screenshot uang
Sumber foto: https://www.google.com.sg/search?q=GAMBAR+UANG&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab&gfe_rd=cr&ei=m5uxWMrVAqvx8Aef_pzgDA

Senin, 02 Mei 2011

BELAJAR MENDIDIK DIRI PRIBADI

 
Banyak orang pandai berbicara. Apalagi kalau berbicara demi kepentingan pribadi! Banyak orang pintar ngomong. Apalagi kalau ngomongin tentang kebutuhannya sendiri. Dan..., pada akhirnya saya --mungkin kita-- tahu bahwa mayoritas manusia itu hanya mementingkan diri pribadi. Pada hakikatnya --ini menurut saya lho-- mayoritas manusia itu hanya mementingkan kebutuhannya sendiri. Bukan mementingkan kebutuhan orang lain. bukan mementingkan kepentingan umum. Apalagi mementingkan kepentingan bangsa dan/atau negara tempatnya dilahirkan!

Bersamaan dengan momen HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2 MEI 2011, mari kita didik diri kita masing-masing untuk belajar, dan secepatnya mengurangi pementingan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Mari kita didik diri pribadi kita masing-masing untuk mementingkan bangsa dan negara tercinta ini di atas kepentingan pribadi, golongan, dan semacamnya. Supaya Indonesia ini dalam waktu yang secepat-cepatnya menjadi bangsa yang maju, makmur, dan sejahtera. Amin

Bumi Pertiwi - negeriku tercinta, Hardiknas 2011

Kamis, 07 April 2011

MENG-ADA APA ADANYA TANPA MENGADA-ADA

 

Sederhana: meng-ada apa adanya, tanpa mengada-ada. Sebuah jargon, prinsip hidup, atau bisa dikatakan semboyan hidup yang sederhana, bahkan sangat sederhana. Karena sederhananya, saya yakin, semua orang pasti bisa menjalankannya. Dengan prinsip hidup yang sederhana itu, orang akan merasa tenang hatinya, tenteram pikirannya, dan nyaman perasaannya dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.

Meng-ada, menjadi ada, menjadi manusia apa adanya, memang mudah dalam dalam tataran teori, atau semboyan hidup. Namun ketika diterapkan, kadang-kadang tidak semudah itu. Godaan-godaan bersifat duniawi tidak terhindarkan. Gemerlap keduniawian menggoda mata, dan hati, juga pikiran untuk meraih sesuatu yang masih di awang-awang. Bahkan masih berada di atas langit sana yang sulit sekali dicapai dalam keadaan seperti yang dimiliki dan dijalani kini.


Kalau sudah begitu, manusia akan terjebak dalam tindakan mengada-ada. Tidak ada, diada-adakan. Mestinya belum perlu mobil sudah membeli mobil hanya karena tidak mau ketinggalan tetangganya yang beli mobil, sehingga mobil yang dibelinya hanya sebagai hiasan bagasi. Kenapa? Karena tidak kuat membeli BBM ketika ingin menggunakannya dalam keseharian. Karena tidak punya biaya perawatan mesin mobil yang rutin. Atau karena sebab lain yang tidak terpikirkan sebelumnya. Itu hanya contoh kecil.

Kalau seseorang mampu memenuhi kebutuhan sekunder berupa barang-barang mewah, silakan dipenuhi. Kalau tidak mampu..., kenapa mesti memaksakan diri? Kenapa mesti mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diada-adakan karena tidak mampu?

Nah, akhirnya tetap saja kita kembali ke semboyan awal: menjalani hidup apa adanya. Tidak perlu memforsir diri sampai lupa daratan, sehingga mengawang-awang dan terjatuh dalam kesengsaraan. HIdup apa adanya akan menenangkan jiwa. Kalau jiwa tenang, maka jiwa terhindar dari sakit. Kalau jiwa tidak sakit, artinya jiwa itu sehat. Ketika jiwa sehat, manusia akan tetap menjadi manusia dalam menjalankan tugas kemanusiaannya tanpa melupakan hakikatnya sebagai manusia yang punya akal budi layaknya manusia.
Bumi Tegalan, 8 April 2011 ; 10.20 WIB
*****

Jumat, 01 April 2011

OPTIMIS DAN ETOS KERJA

 
Setiap usaha apa pun, pasti ada kendalanya. Kendala, masalah, atau permasalahan terkait dengan usaha yang dijalankan, mesti dihadapi dan diselesaikan.

Adanya hama wereng yang menyerang tanaman padi di wilayah Solo (Jawa Tengah) dan sekitarnya membuat para petani gagal panen secara bertubi-tubi. Bukan hanya satu kali gagal panen, tetapi berkali-kali. Para petani yang sebelumnya tidak perlu membeli beras karena persediaan beras dari hasil taninya, sekarang mesti membeli beras akibat gagal panen berkali-kali.

Saya melakukan pembicaraan dengan beberapa petani dari beberapa tempat berbeda, mereka memang mengeluh, tetapi mereka tetap setia pada pekerjaannya. Mereka akan tetap menanam padi. Ada himbauan (dalam bentuk surat edaran) dari seorang bupati untuk tidak menanam padi pada bulan Agustus untuk memutus  mata rantai kehidupan wereng agar di penanaman selanjutnya sudah terbebas dari hama itu. Sebagian petani sudah siap melaksanakan himbauan bupati. hanya saja, mereka pada bulan April ini tetap akan menana padi dengan sistem spekulasi. Mereka tidak akan memupuk dan memberikan pestisida pada tanamannya. Kalau untung ya bersyukur, kalau gagal, ya resiko. Kegagalan panen yang bertubi-tubi membuat mereka "kebal gagal". Artinya, mereka siap gagal, tetapi tetap optimis untuk bisa memetik hasil (walaupun spekulatif).

Belajar dari kenyataan itu, ternyata etos kerja yang tinggi, spirit kerja yang tinggi, bisa membuat kita selalu optimis, meskipun tetap berhitung bahwa dalam usaha apa pun tetap ada dua kemungkinan: gagal atau berhasil. Nah, kalau begitu, dalam menghadapi gonjang-ganjing ekonomi di jaman apa pun, kita memang harus selalu optimis. Kita tetap berupaya dan bekerja semaksimal mungkin. Gagal atau berhasil itu urusan nanti. Gagal itu resiko. Berthasil, itulah yang kita harapkan.

LANGGANAN ARTIKEL

Tulis email Anda untuk mendapatkan update artikel di blog ini, lalu "KLIK DI SINI"!:

Delivered by FeedBurner

Translate